Desa Rimba Jaya – Sekelompok perompak bersenjata membajak kapal tanker minyak Honour 25 di lepas pantai Somalia pada Rabu, 22 April 2026 malam. Insiden perompak bajak kapal tanker ini menahan total 17 awak kapal, termasuk empat warga negara Indonesia yang kini berada dalam sandera para pelaku.
Pejabat keamanan yang bekerja di wilayah semi-otonom Puntland, Somalia, mengonfirmasi peristiwa tersebut. Kapal Honour 25 mengangkut sekitar 18.500 barel minyak saat para perompak menguasai kemudi kapal tepat pada posisi 30 mil laut dari garis pantai.
Peristiwa perompak bajak kapal tanker ini memicu kekhawatiran global terkait keamanan maritim di kawasan tersebut. Selain awak kapal asal Indonesia, kru lain yang berada di dalam kapal tersebut terdiri dari 10 warga Pakistan, satu warga India, satu warga Sri Lanka, serta satu warga Myanmar.
Kronologi Pembajakan Kapal Honour 25
Kapal Honour 25 memulai perjalanannya dari pelabuhan Berbera di wilayah Somaliland pada 20 Februari 2026. Data dari situs web pelacakan kapal, ShipAtlas, mencatat kapal itu sempat menuju perairan dekat Uni Emirat Arab sesaat setelah konflik pecah di kawasan tersebut. Selanjutnya, kapal tampak berputar-putar di sekitar pintu masuk Selat Hormuz selama periode waktu tertentu.
Setelah pergerakan tersebut, nahkoda kapal membelokkan arah pada 2 April 2026 menuju Mogadishu. Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan mulus karena kelompok bersenjata mencegat kapal di lepas pantai Somalia. Menariknya, sumber keamanan menyebutkan sebanyak enam orang bersenjata melancarkan serangan pertama untuk menguasai kapal.
Tidak berhenti di situ, sumber yang sama mengungkapkan lima orang bersenjata lainnya menyusul naik ke kapal Honour 25 untuk memperkuat kendali. Alhasil, kru di atas kapal harus tunduk pada perintah kelompok tersebut. Faktanya, para pejabat keamanan meyakini pembajak berasal dari daerah terpencil di sekitar kota Bander Beyla.
Status dan Kondisi Terkini Awak Kapal
Hingga saat ini, pihak terkait masih memantau perkembangan situasi di lokasi kapal berlabuh. Berikut adalah rincian profil awak kapal Honour 25 yang menjadi korban peristiwa pembajakan tersebut:
| Kebangsaan | Jumlah Awak |
|---|---|
| Pakistan | 10 orang |
| Indonesia | 4 orang |
| India | 1 orang |
| Sri Lanka | 1 orang |
| Myanmar | 1 orang |
Dengan demikian, total kru yang berada di dalam kapal tanker berjumlah 17 orang. Kelompok perompak kini menempatkan kapal tersebut di perairan dekat pantai Somalia, tepatnya di antara kota nelayan Xaafun dan Bander Beyla. Meskipun demikian, pihak otoritas Somalia maupun Pasukan Angkatan Laut Eropa belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai upaya penyelamatan awak kapal.
Ketidakpastian Keamanan Perairan Somalia
Dunia internasional terus menyoroti keamanan di perairan Somalia yang sering menjadi sarang pembajakan. Meski Pasukan Angkatan Laut Eropa rutin mengawasi wilayah tersebut, kelompok perompak tetap saja menemukan cara untuk mencegat kapal tanker minyak. Hingga kini, detail teknis mengenai cara para pelaku melumpuhkan sistem navigasi kapal Honour 25 belum terungkap secara jelas.
Pertanyaan besar yang muncul bagi para ahli keamanan maritim adalah apakah pengawasan saat ini masih memadai untuk mencegah ancaman baru tahun 2026 ini. Terlebih lagi, frekuensi aktivitas mencurigakan di sekitar pintu masuk Selat Hormuz mulai meningkat sejak awal tahun. Oleh karena itu, pengamat maritim mendesak adanya koordinasi yang lebih ketat antar pemerintah negara terkait untuk melindungi jalur pelayaran internasional.
Sebagai langkah lanjutan, pihak berwenang terus melakukan koordinasi di balik layar untuk memantau pergerakan kapal yang kini berada di bawah kendali perompak. Meski komunikasi dengan awak kapal sangat terbatas, fokus utama saat ini tetap mengutamakan keselamatan jiwa ke-17 kru yang berada di dalam kapal.
Situasi ini tentu menjadi ujian berat bagi keamanan laut internasional di sepanjang tahun 2026. Harapannya, kerja sama global segera membuahkan hasil nyata agar 4 WNI dan kru lainnya dapat segera kembali pulang ke keluarga dengan kondisi selamat tanpa ada tindakan kekerasan lebih lanjut yang menimpa mereka.
