Desa Rimba Jaya – Pemerintah Kota Yogyakarta meluncurkan program Kampung Lampion untuk menata permukiman kumuh di sepanjang bantaran Sungai Code pada Sabtu, 25 April 2026. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memimpin langsung peninjauan kawasan tersebut bersama pihak Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan guna memastikan kualitas hunian masyarakat meningkat pesat.
Transformasi wilayah pinggiran sungai ini mengedepankan pendekatan gotong royong warga setempat meski pemerintah daerah menghadapi keterbatasan fiskal. Program strategis ini bertujuan mengubah wajah permukiman padat penduduk menjadi destinasi wisata kreatif yang layak huni, memiliki estetika tinggi, serta memberikan kenyamanan bagi para penghuninya dalam jangka panjang.
Transformasi Kampung Lampion di Bantaran Sungai Code
Hasto Wardoyo menyatakan bahwa pembangunan 10 unit rumah dengan kualitas konstruksi prima rampung pada tahun 2026 melalui sistem swakelola warga. Langkah nyata ini memerlukan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar untuk mendukung pemenuhan kebutuhan hunian yang aman dan sehat. Selain membangun hunian, pemerintah kota juga menyiapkan infrastruktur jalan lingkungan selebar 3 hingga 4 meter agar kendaraan darurat seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran sanggup menjangkau permukiman dengan cepat.
Faktanya, proyek ini mengedepankan prinsip zero conflict atau tanpa gejolak dalam setiap proses penataan kawasan padat penduduk. Pendekatan persuasif yang pemerintah terapkan terbukti mampu menciptakan harmoni antara kebutuhan warga dan target pembangunan pemerintah. Menariknya, inisiatif ini bermula dari kemauan warga untuk mengubah kawasan yang dulu tampak tidak tertata menjadi area penuh warna dengan hiasan lampion yang memukau.
Rencana Pembangunan dan Target Penyelesaian Hunian
Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan pembangunan total 38 unit rumah di kawasan Kampung Lampion yang berlokasi di Kotabaru. Data menunjukkan pencapaian hingga tahun 2026 sudah menjangkau 10 unit rumah, yang terdiri dari enam unit via APBD serta empat unit melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Selanjutnya, pemerintah melanjutkan pembangunan pada sisa target rumah dengan skema pendanaan yang beragam. Berikut merupakan perincian progres pembangunan rumah di Kampung Lampion:
| Periode Pembangunan | Jumlah Unit Rumah | Sumber Dana |
|---|---|---|
| Tahun 2025 | 10 Unit | APBD & Perguruan Tinggi |
| Tahun 2026 | 9 Unit | APBD tahun 2026 & CSR |
| Tahun 2027 | 19 Unit (Sisa) | Target Penyelesaian |
Dengan demikian, pemerintah kota optimistis mampu menyelesaikan seluruh rangkaian pembangunan hunian pada tahun 2027 secara menyeluruh. Alhasil, warga bisa segera menikmati lingkungan yang semakin bersih dan tertata baik melalui dukungan skema pendanaan yang inklusif.
Integrasi Kearifan Lokal dalam Penataan Permukiman
Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana Prasarana Permukiman Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Ronny Ariuly Hutahayan, memberikan apresiasi tinggi terhadap program ini. Ia menilai bahwa kolaborasi lintas sektor yang kuat membuktikan suksesnya penggabungan aspek fisik dan sosial dalam pembangunan. Keberhasilan menghimpun kearifan lokal menjadi motor penggerak utama menjadikan Kampung Lampion sebuah model yang patut pemerintah tiru di wilayah lain.
Lebih dari itu, Ronny menekankan pentingnya pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas pendukung seperti sistem sanitasi lingkungan yang lebih baik. Meskipun kawasan ini sudah mengalami perubahan fisik, peningkatan kualitas kesehatan melalui sanitasi tetap perlu menjadi prioritas utama. Singkatnya, penataan kawasan kumuh memerlukan pendekatan holistik agar kesehatan warga dan keindahan lingkungan sama-sama meningkat.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata bagi Masyarakat
Wisatawan kini memiliki opsi destinasi baru saat berkunjung ke Yogyakarta berkat hadirnya Kampung Lampion. Keindahan deretan rumah berwarna-warni yang berhias lampion menciptakan spot fotografi menarik yang sempat menjadi perbincangan hangat. Selain itu, pengunjung dapat menikmati aktivitas susur sungai serta mencicipi kuliner lokal yang tersedia di sepanjang kawasan bantaran Sungai Code.
Pemandangan kampung yang indah tampak makin menawan saat pengamat melihatnya dari atas Jembatan Sayidan atau Jembatan Gondolayu. Pada malam hari, ratusan lampion menyala dengan cantik dan membuktikan bahwa kreativitas warga mampu menghidupkan kembali kawasan yang sebelumnya luput dari perhatian. Inisiatif ini tidak hanya sekadar mengubah hunian, melainkan juga mengangkat potensi ekonomi kreatif bagi masyarakat setempat melalui sektor pariwisata.
Pemerintah Kota Yogyakarta berharap program Kampung Lampion mampu menjadikan wilayah ini sebagai pusat keunggulan atau center of excellence bagi penataan permukiman tepi sungai berbasis masyarakat. Pencapaian ini membuktikan bahwa sinergi antara pemerintah, swasta, dan warga menghasilkan dampak positif yang nyata bagi perkembangan tata kota. Ke depan, pemerintah akan terus menjaga semangat gotong royong ini agar perubahan positif di Yogyakarta terus berlanjut demi kesejahteraan masyarakat luas.
