Desa Rimba Jaya – Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, menyandang predikat sebagai salah satu lokasi emisi gas metana terbesar kedua di dunia per 2026. Laporan berjudul ‘Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills’ yang dirilis UCLA School of Law pada 20 April 2026 menempatkan situs ini dalam daftar 25 lokasi emisi tertinggi global sepanjang tahun 2025.
Tim peneliti menyusun data ini melalui pantauan satelit berkelanjutan guna memetakan potensi bahaya lingkungan secara presisi. Temuan ini mengungkapkan bahwa Bantargebang melepaskan emisi jauh melampaui rata-rata tempat pembuangan sampah di berbagai belahan dunia lainnya.
Laporan Emisi Gas Metana Global 2026
Laporan UCLA merangkum data dari 25 lokasi tempat pembuangan sampah dengan tingkat emisi gas metana tertinggi selama periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025. Peneliti mendapatkan data emisi metana publik melalui Carbon Mapper dengan memanfaatkan pantauan satelit canggih secara intensif.
Sistem ini menggunakan dua instrumen utama dalam proses pengumpulan data:
- Satelit Tanager-1 milik Planet Labs.
- Perangkat EMIT milik NASA yang terpasang pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Data menunjukkan total emisi mencapai angka 2.994 dari 707 lokasi pembuangan limbah di seluruh dunia. Peneliti menegaskan bahwa 25 lokasi teratas dalam daftar tersebut menyemburkan gas metana antara 3,6 hingga 7,5 ton per jam, angka yang signifikan jika seseorang bandingkan dengan rata-rata TPA normal yang hanya mengeluarkan puluhan kilogram metana.
Kondisi TPST Bantargebang di Asia
TPST Bantargebang mencatatkan angka emisi sebesar 6,3 ton gas metana setiap jam. Angka ini menempatkan Bantargebang sebagai titik emisi terburuk di seluruh kawasan Asia pada 2026.
Satelit mendeteksi emisi ini setiap melintas di lokasi tersebut, yang mencerminkan tingkat persistensi hingga 100 persen. Data Carbon Mapper juga mengidentifikasi 35 gumpalan gas metana berskala besar selama observasi 13 hari. Bahkan, grafik emisi sempat memperlihatkan lonjakan melebihi 12 ton per jam pada pertengahan 2025. Sebagai gambaran, berikut adalah perbandingan dampak emisi metana yang para ahli ilustrasikan:
| Kategori Emisi Metana | Dampak Lingkungan |
|---|---|
| Emisi 5 Ton per Jam | Setara 1 juta mobil SUV atau 1 pembangkit listrik 500 MW |
| TPA Campo de Mayo (Argentina) | 7,6 ton per jam (Peringkat 1 dunia) |
| TPST Bantargebang | 6,3 ton per jam (Peringkat 2 dunia) |
Risiko Gas Metana dan Ledakan Sampah
Gas metana merupakan senyawa hidrokarbon fraksi ringan yang memiliki karakteristik mudah terbakar. Secara fungsional, manusia sering memakai senyawa ini dalam pembuatan gas alam atau LNG, bahkan memanfaatkannya sebagai pembangkit listrik.
Proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme di lingkungan minim oksigen menghasilkan gas ini secara alami. Meskipun metana tidak bersifat racun, konsentrasi gas yang tinggi dalam satu ruang tertutup memiliki potensi ledakan besar jika mengalami tekanan berlebih.
Aliansi Zero Waste Indonesia mencatat ancaman serius terkait penumpukan gas ini di berbagai TPA. Laporan tahun 2023 menunjukkan bahwa 38 TPA mengalami kebakaran akibat ledakan gas metana. Kondisi cuaca panas ekstrem serta tingkat kelembapan tinggi memicu gas lebih mudah terbakar, yang kemudian menciptakan bencana kedaruratan sampah di banyak daerah.
Tantangan Pengelolaan Sampah di Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti kondisi tumpukan sampah di TPST Bantargebang yang sudah menyerupai gedung tinggi dengan estimasi 16 hingga 20 lantai. Beliau mempertanyakan efektivitas pengelolaan yang berjalan saat ini karena timbunan sampah terus menggunung tanpa kendali optimal.
Zulhas, panggilannya, mengungkapkan keyakinan bahwa beliau bisa menyelesaikan masalah ini dalam satu tahun jika pemerintah memberikan kewenangan penuh serta instruksi presiden (inpres). Ia merencanakan pembangunan solusi jangka panjang segera pada tahun kedua pengerjaan.
Kunjungan ini menegaskan urgensi perbaikan sistem di TPST yang memiliki luas 117 hektare tersebut. Fasilitas ini rata-rata menerima sekitar 7.700 ton sampah setiap hari dari Provinsi DKI Jakarta. Kondisi kelebihan kapasitas saat ini menyebabkan ketinggian timbunan sampah telah menembus angka lebih dari 40 meter.
Upaya serius perlu pemerintah lakukan guna memitigasi dampak emisi gas metana di masa depan. Dengan pengelolaan sampah yang lebih modern, setiap pihak berharap bisa mencegah potensi bencana kebakaran sekaligus menekan angka emisi gas rumah kaca secara signifikan pada tahun-tahun mendatang.