Desa Rimba Jaya – Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ziarah ke makam Margono Djojohadikoesoemo di kompleks pemakaman Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah, pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama sang Presiden dalam rangkaian kunjungan kerja ke luar kota guna memberikan penghormatan kepada sang kakek sekaligus tokoh perintis Bank Negara Indonesia (BNI).
Badan Komunikasi Pemerintah atau Bakom RI menyatakan kehadiran Prabowo di sana mencerminkan rasa hormat mendalam kepada keluarga serta penghargaan atas dedikasi para pendahulu bangsa. Masyarakat sekitar lokasi juga menyambut kedatangan Kepala Negara dengan hangat, bahkan berkesempatan mendampingi Prabowo bersalaman serta memanjatkan doa bersama bagi Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.
Kunjungan Prabowo Ziarah ke Makam Margono di Banyumas
Selain agenda ziarah, Prabowo menaruh perhatian besar terhadap pengembangan infrastruktur lingkungan di wilayah tersebut. Pada hari yang sama, mantan Menteri Pertahanan ini memantau langsung operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Berbasis Lingkungan dan Edukasi (BLE) di Banyumas. Ia mengamati bagaimana sistem teknologi canggih mengubah tumpukan sampah menjadi produk bernilai guna seperti paving blok, genteng, hingga bijih plastik siap pakai.
Faktanya, perjalanan Prabowo ke Banyumas menggugah memori sejarah mengenai sosok Margono Djojohadikoesoemo yang merupakan tokoh penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan data silsilah, Margono lahir di Purbalingga pada 16 Mei 1894 dan memiliki garis keturunan dari pejuang tangguh. Dia merupakan cicit dari Raden Tumenggung Banyak Lebar atau lebih publik kenal sebagai Panglima Banyakwide, seorang pengabdi setia Pangeran Diponegoro.
Silsilah Keluarga dan Latar Belakang Margono
Margono Djojohadikoesoemo tumbuh sebagai priyayi dari keluarga terpandang yang saat itu memegang jabatan Asisten Wedana di wilayah Banyumas. Beruntungnya, masa kecil Margono melaluinya dengan kesempatan menempuh pendidikan resmi yang jarang warga bumiputera peroleh pada masa kolonial. Pada tahun 1915, ia mempersunting Siti Katoemi Wirodihardjo dan membina keluarga harmonis yang melahirkan lima orang anak.
Berikut daftar anak dari pasangan Margono dan Siti Katoemi:
- Soemitro Djojohadikoesoemo
- Soekartini Djojohadikusumo
- Miniati Djojohadikoesoemo
- Soebianto Djojohadikoesoemo
- Soejono Djojohadikoesoemo
Menariknya, anak sulung Margono, yaitu Soemitro Djojohadikoesoemo, menjadi sosok ayah dari Presiden Prabowo Subianto. Garis keturunan ini membuktikan eratnya ikatan antara pejuang perintis kemerdekaan dengan estafet kepemimpinan nasional di Indonesia saat ini.
Peran Krusial Margono dalam Ekonomi Indonesia
Sebelum kemerdekaan RI, Margono mendedikasikan kariernya di Departemen Urusan Ekonomi hingga masa pendudukan Jepang pada 1942. Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, negara menunjuknya menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) guna memberikan nasihat strategis kepada Presiden serta Wakil Presiden. Langkah ini krusial dalam memperkuat fondasi negara yang baru lahir.
| Peristiwa Penting | Tahun Kejadian |
|---|---|
| Kelahiran Margono Djojohadikoesoemo | 1894 |
| Pembentukan BNI melalui Perppu | 1946 |
| Perubahan status BNI menjadi persero | 1970 |
| Wafatnya Margono | 1978 |
Singkatnya, Margono mempelopori sistem perbankan nasional dengan mengusulkan pendirian bank sentral sesuai amanat UUD 1945. Sukarno dan Mohammad Hatta memberikan mandat khusus kepada Margono untuk menyiapkan pembentukan bank sirkulasi tersebut per 16 September 1945. Kerja kerasnya mempercepat lahirnya Perppu Nomor 2 Tahun 1946 yang meresmikan kehadiran Bank Negara Indonesia pada 15 Juli 1946.
Inspirasi dari Sang Perintis Bangsa
Sebagai Direktur Utama pertama BNI, Margono meletakkan standar integritas yang kuat dalam mengelola keuangan negara. Warisannya tetap relevan hingga tahun 2026, terutama dalam memotivasi generasi penerus untuk terus berinovasi demi kepentingan rakyat banyak. Saat Margono wafat pada 25 Juli 1978, Prabowo saat itu berusia 26 tahun, usia yang menjadi saksi bagaimana nilai-nilai perjuangan sang kakek membentuk karakter kepemimpinan yang ia bawa sekarang.
Pada akhirnya, ziarah ini bukan sekadar ritual kekeluargaan biasa. Tindakan ini mengingatkan publik bahwa setiap pembangunan yang pemerintah lakukan saat ini memiliki akar kedekatan sejarah yang kuat dengan pengabdian para tokoh masa lalu. Semangat kepahlawanan Margono Djojohadikoesoemo dalam mendirikan instansi ekonomi vital menjadi inspirasi bagi Prabowo dalam menjalankan roda pemerintahan demi kemajuan bangsa Indonesia ke depan.
