Desa Rimba Jaya – Taksi Green SM mengalami kemacetan di perlintasan sebidang wilayah Bekasi pada Selasa, 28 April 2026. Kejadian ini memicu upaya pertolongan warga sekitar yang berusaha memindahkan kendaraan tersebut dari jalur rel kereta api guna menghindari kecelakaan lebih lanjut.
Ajat, salah seorang warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi kejadian, menyaksikan langsung kepanikan tersebut saat ia tengah bersantai. Sekitar lima orang warga berusaha keras mendorong taksi berwarna hijau itu, namun kendaraan tetap tidak bergerak dari posisinya di tengah rel.
Taksi Green SM mandek menjadi pusat perhatian warga saat insiden berlangsung di perlintasan kereta. Ketidakmampuan warga menggeser mobil tersebut menciptakan suasana genting sebelum benturan pertama dengan KRL Commuter Line terjadi tanpa peringatan lebih awal.
Kesaksian warga saat Taksi Green SM mandek dan tertemper kereta
Ajat mengaku terkejut ketika mendengar suara benturan keras di dekat rumahnya. Saat itu, ia sedang duduk menikmati waktu makan di teras rumah ketika suara tabrakan pecah dan memaksanya berlari keluar untuk melihat kondisi di luar.
Faktanya, ia mendapati taksi tersebut sudah berada di tengah perlintasan dengan posisi terjepit. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi penduduk sekitar yang menyaksikan bagaimana kendaraan tersebut tidak mampu bergerak sedikit pun dari jalur berbahaya itu.
Selain itu, kepanikan tidak berhenti setelah benturan pertama. Tak selang beberapa menit kemudian, suara benturan kedua kembali mengguncang lokasi kejadian, namun kali ini sumber suaranya berasal dari area stasiun dekat perlintasan tersebut.
Rangkaian benturan kereta di Stasiun Bekasi Timur
Kejadian kedua melibatkan kereta api jarak jauh Argo Bromo yang menabrak rangkaian KRL Commuter Line. KRL tersebut tampak sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur untuk menaikkan serta menurunkan penumpang saat tabrakan terjadi.
Ajat menjelaskan bahwa jarak waktu antara peristiwa taksi tertemper KRL dengan kecelakaan di stasiun hanya berkisar antara tiga sampai lima menit saja. Situasi ini membuat petugas keamanan yang awalnya sibuk mengevakuasi taksi segera berlari menuju arah stasiun demi memeriksa keadaan.
| Urutan Kejadian | Keterangan Lokasi |
|---|---|
| Insiden Pertama | Perlintasan Sebidang Bekasi |
| Insiden Kedua | Stasiun Bekasi Timur |
Kerusakan parah pada rangkaian kereta api
Petugas keamanan dan warga semula mengira bahwa tabrakan kedua merupakan kecelakaan ringan biasa. Namun, asumsi tersebut runtuh seketika saat mereka melihat kondisi fisik rangkaian kereta secara langsung di lokasi kejadian.
Kondisi lokomotif yang menabrak gerbong KRL Commuter Line tampak sangat parah. Hal ini membuat banyak orang merasa terpukul hingga tidak sanggup lagi menyaksikan pemandangan kerusakan tersebut lebih lama lagi.
Ajat bahkan memutuskan untuk kembali pulang ke rumah karena tidak kuat melihat dampak kecelakaan yang begitu dahsyat. Kejadian pada 28 April 2026 ini memberikan pelajaran mendalam tentang pentingnya kewaspadaan di area perlintasan kereta api bagi semua pengguna jalan.
Meski peristiwa taksi mandek di perlintasan memberikan rasa panik, masyarakat sekitar terus berupaya sigap menolong sesama dalam situasi kritis. Keteladanan warga dalam situasi darurat tetap menjadi sorotan utama di balik rangkaian insiden tragis yang terjadi hari itu.
Pemerintah dan pihak terkait perlu mengevaluasi sistem keselamatan di titik-titik rawan perlintasan sebidang. Upaya preventif sangat masyarakat harapkan agar kecelakaan serupa tidak terulang kembali di masa depan demi menjaga keamanan publik serta operasional transportasi kereta api.
